Peningkatan Risiko Obesitas Karena Kualitas Tidur Yang Buruk

Tidur adalah kebutuhan setiap makhluk hidup. Fungsi tidur adalah dapat mengisi kembali energi yang hilang dan mengatur ulang fungsi organ didalam tubuh. Tanpa tidur yang cukup, seseorang mungkin mudah lelah, stres, dan mudah sakit. Tidak banyak orang yang mengetahui bahwa kurang tidur yang berkualitas meningkatkan risiko terjadinya obesitas.

Selama ini banyak orang yang percaya bahwa penyebab utama obesitas adalah memakan makanan yang lebih banyak daripada takaran kalori harian. Nyatanya, ini belum semuanya. Tidur juga berperan dalam perkembangan obesitas. Dilansir dari Healthline, berikut beberapa alasan mengapa kualitas tidur yang buruk dapat meningkatkan risiko obesitas :

1. Cara Kerja Otak Berubah

Kurang tidur ternyata bisa mengubah cara kerja otak. Saat Kamu kurang tidur, aktivitas lobus frontal (bagian otak yang bertanggung jawab untuk pengambilan keputusan dan pengendalian diri) mengalami kejenuhan. Akibatnya, Kamu sulit mengambil keputusan, Hal ini mungkin akan membuat Kamu lebih sulit memilih makanan sehat dan juga sulit menolak makanan tinggi lemak dan tinggi kalori. dan Kamu sulit mengontrol diri untuk tidak mengonsumsi makanan yang tidak sehat.

2. Asupan Kalori Meningkat 

Peningkatan kalori mungkin karena nafsu makan meningkat dan pilihan makanan yang buruk. Kualitas tidur yang buruk juga dapat mempengaruhi kemampuan seseorang dalam mengontrol makanan, sehingga meningkatkan asupan kalori.

Orang yang kurang tidur cenderung mengonsumsi lebih banyak kalori. Sebuah studi menemukan bahwa partisipan yang tidur hanya selama empat jam membakar rata-rata 559 kalori keesokan harinya dibandingkan mereka yang tidur selama delapan jam.

3. Nafsu Makan Meningkat 

Banyak penelitian yang menunjukkan bahwa orang yang kurang tidur merasa nafsu makannya meningkat. Ini kemungkinan besar karena efek tidur pada dua hormon yang mengatur rasa lapar, ghrelin dan leptin.

Ghrelin adalah hormon yang dilepaskan di perut yang mengirimkan sinyal rasa lapar ke otak. Kadar hormon ini biasanya naik saat perut kosong. Sedangkan leptin adalah hormon yang dilepaskan dari sel lemak yang menekan rasa lapar dan mengirimkan sinyal kenyang ke otak.

Ketika Kamu tidak cukup tidur, tubuh Kamu menghasilkan lebih banyak ghrelin daripada leptin. Akibatnya, nafsu makan Kamu meningkat karena Kamu merasa sangat lapar. Selain itu, kualitas tidur yang buruk juga meningkatkan hormon kortisol. Kortisol adalah hormon stres yang juga dapat meningkatkan nafsu makan.

4. Istirahat Metanbolisme Berkurang

Resting Metabolic Rate (RMR) atau Tingkat metabolisme istirahat adalah jumlah kalori yang dibakar tubuh Kamu saat Kamu beristirahat penuh. Ini dipengaruhi oleh usia, berat badan, tinggi badan, jenis kelamin dan massa otot. Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur dapat menurunkan RMR. Tidur yang buruk tampaknya juga menyebabkan hilangnya massa otot. Otot membakar lebih banyak kalori saat istirahat daripada lemak, jadi saat Kamu kehilangan otot, laju metabolisme istirahat Kamu melambat.

5. Fisik Mengalami Kelelahan

Kurang tidur dapat menyebabkan kelelahan di siang hari, mengurangi kemungkinan kegembiraan dan motivasi untuk berolahraga. Sedangkan orang yang cukup tidur lebih bersemangat dan konsisten dalam beraktivitas fisik.

6. Resistensi Insulin

Insulin adalah hormon yang membawa gula dari aliran darah ke sel-sel tubuh dan berfungsi sebagai energi. Ketika sel menjadi resisten terhadap insulin, lebih banyak gula akan tetap berada di dalam darah, sehingga tubuh memproduksi lebih banyak insulin untuk mengimbanginya. Kelebihan insulin dengan cepat membuat Kamu lapar dan menyebabkan tubuh Kamu menyimpan lebih banyak kalori sebagai lemak. Jika ini terjadi, Kamu tidak hanya berisiko mengalami obesitas, tetapi Kamu juga rentan terkena diabetes tipe 2.

Jika Kamu memiliki obesitas dan merasa kualitas tidur terganggu, cepatlah atasi dengan perubahan gaya hidup serta berkonsultasi kepada dokter. Jika perlu, kamu dapat meminta bantuan ahli gizi untuk mengatur kebutuhan nutrisi serta dokter spesialis kedokteran olahraga untuk membantu menentukan program latihan yang aman.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *